HOME
Home » Kolom » PKS Tidak Anti Kebudayaan

PKS Tidak Anti Kebudayaan

Posted at January 1st, 2022 | Categorised in Kolom

PKS Tidak Anti Kebudayaan
Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis. Pengamat Komunikasi, tinggal di Depok)

Pikiran yang mengatakan bahwa PKS anti kebudayaan perlu diluruskan. Benarkah kenyataannya demikian? Bukti-bukti apa, kasus-kasus apa saja yang menjadi dasar menyimpulkan bahwa PKS adalah partai yang anti kebudayaan? Kalau tak menemukan. Tentu anggapan demikian  sekadar asumsi yang tanpa dasar. Sebuah pikiran yang perlu dikoreksi.

Memang, bagaimanapun juga, sebuah pendapat boleh-boleh saja. Tapi kalau terus memelihara pendapat yang keliru, asumsi tanpa dasar, bahkan disertai kebencian yang tak beralasan, justru pikiran dan sikap demikian yang anti  terhadap kebudayaan itu sendiri.

Soal selera terhadap kebudayaan, mungkin memang ada. Misalnya, PKS, sebagian besar bisa jadi bakal kurang nyaman terhadap Tari Jaipong dari Karawang, Jawa Barat, yang sering dimainkan perempuan dengan meliuk-liukkan badan walaupun filosofinya mungkin representasi keluwesan dan kecekatan seorang wanita.

Begitu juga sorotan dan lirik mata “Genit”  penarinya walaupun bagi pengamat kebudayaan, maknanya diartikan sebagai sebuah simbol keberanian menyatakan pendapat dan melakukan komunikasi yang baik. Tapi, apakah kemudian ketika PKS “berkuasa”, menjadi gubernur Jawa Barat ada kebijakan untuk memberangus kesenian yang merupakan bagian dari kebudayaan lokal  tersebut? Tidak pernah ada.

Bagi PKS, mungkin lebih nyaman misalnya menikmati Tari Saman.  Di mana dari literatur yang ada, Tari Saman di  Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syech Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara. Tari Saman merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan atau dakwah.

Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan. Salah satunya, dengan representasi para pemain wanitanya yang memakai jilbab dengan gerakan lincah tapi tanpa meliak-liukkan badan (pinggul).

Dalam tradisi yang ada, sebelum  Tari Saman dimainkan,  dimulai dengan mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton. PKS, barangkali lebih mengapresiasi kebudayaan semacam ini dan saya kira tak keberatan jika tarian itu ditampilkan dalam acara-acara PKS.

Masalahnya sekarang, kenapa persepsi PKS anti kebudayaan ini masih ada? Saya kira, arus informasi, baik di media konvensional maupun di media sosial perlu dicermati dengan baik oleh PKS. Sejauh ini, persepsi demikian saya kira masih dalam “Personal Opinion”, PKS saya kira bisa memetakan orang-orang, dari kelompok-kelompok mana saja yang berpendapat begitu. Hanya saja, ketika ada pembiaran, maka bisa membesar menjadi opini publik.

Nah, ketika opini publik ini sudah terbentuk, tentu saja, PKS bakal kesulitan membendung persepsi demikian. Itu sebabnya sebelum opini membesar, perlu terus turun mendengarkan suara masyarakat. Apa yang sebenarnya dirasakan oleh seseorang (what the individual really feels) terhadap PKS terutama dalam soal kebudayaan.

Inilah salah satu pekerjaan rumah (PR) PKS, terutama tentu saja pekerjaan bidang Seni dan Budaya yang ada dalam struktur kepengurusan PKS. Hasilnya, kelak bisa merumuskan dan mempraktikkan strategi kebudayaan yang tepat sehingga persepsi bahwa PKS anti kebudayaan tak ada lagi.

Foto Ilustrasi: Ngaji Budaya di DPP PKS

No comment for PKS Tidak Anti Kebudayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.