HOME
Home » Oase » Semalam di Masjid Jogokariyan

Semalam di Masjid Jogokariyan

Posted at March 19th, 2022 | Categorised in Oase
“Dulu ada plang Muhammadiyahnya Mas, tapi sudah dicopot biar semua kalangan bisa nyaman ke masjid ini,” kata sang penjual susu murni di depan Masjid Jogokariyan, Jogjakarta. Itulah salah satu kebajikan pengurus Muhammadiyah yang mengelola masjid. Rela copot plang demi dakwah yang lebih luas.

Selepas subuh, saya nongkrong di depan masjid itu. Di angkringan, sebenarnya ada sesepuh masjid. Sang ketua dewan syuro masjid. Saya sengaja tak mengajaknya ngobrol. Kali ini, saya sedang ingin mendengar langsung cerita dari warga di sana. Mulai dari yang terdekat. Para penjual yang mangkal di sekitaran masjid. Warga lokal yang diberdayakan. Selain tentu saja satpam, ibu-ibu rumah tangga pebisnis kuliner sampai mereka yang diberi amanah mengelola penginapan di masjid itu.

Bersama keluarga (mertua), bermalam di penginapan masjid itu. Ya, lagi ada acara di Jogja, hadiri adik yang wisuda di UMY. Jadinya, semalam di penginapan lantai 3 masjid ini. Harganya murah saja. Rp. 150 ribu/malam. Fasilitas kamar AC, mandi bisa air hangat, televisi, WIFI, kopi atau teh sepuasnya. Buat musafir, ada tempat bermalam khusus, tanpa biaya. Kalau capek, ada tukang pijit tuna netra jamaah masjid yang siap melemaskan otot dan merilekskan pikiran. Cukup rogoh kocek Rp.50 ribu saja. Sudah dipijat seluruh badan. Untuk makan murah meriah. Ada angkringan, juga warung ayam geprek yang murah banget. Paket ayam geprek, nasi, es teh plus sayur sop cukup Rp. 12.000 saja.

Kalau berjamaah subuh di akhir pekan, ceritanya lain lagi. Jamaah subuh membludak. Mirip seperti salat Jumat. Memang, akhir pekan ada program khusus dari Masjid Jogokariyan. Setiap jamaah yang datang, akan diberi kupon Rp.10.000. Untuk apa? Setelah subuhan, jamaah bisa membeli makanan di “pasar rakyat” yang berjejer di pelataran masjid dan sepanjang jalan sekitarnya. Sebuah kegiatan untuk memberdayakan masyarakat (jamaah) setempat. Mereka, warga lokal, jamaah lokal ramai-ramai menjual makanan bagi para jamaah. Sungguh, benar-benar program memberdayakan.

Maka, tak heran kalau masjid itu kerap menjadi rujukan. Menjadi tempat studi banding DKM-DKM masjid lain. Padahal, dulunya, kampung Jogokariyan adalah markasnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Waktu itu, tahun 1955-1966 pertumbuhan “jamaah” PKI di Jogjakarta, termasuk Jogokariyan begitu pesat. Dengan slogan “Sama rata, sama rasa” dan janji-janji politik PKI, banyak warga yang ikut. Hanya saja, sejarah bicara lain. Tahun 1966 PKI dibubarkan oleh Soeharto. Banyak warga ditangkap, dibawa entah kemana. Sementara, anak-anaknya kemudian tak terurus.

Maka, kemudian, warga muslim yang dalam sejarah sering “dinyinyirin” PKI memberanikan diri dalam pergerakan umat. Bahkan kemudian membantu anak-anak PKI dengan memberikan makanan, obat-obatan dan mendirikan Sekolah Muhammadiyah. Termasuk, di dalamnya, membangun Masjid Jogokariyan. Dengan peletakkan batu pertama tanggal 22 September 1966 dan diresmikan tanggal 20 Agustus 1967. Singkat cerita, Masjid Jogokariyan dengan beragam inovasinya menjadi terkenal. Salah satunya dengan kenalkan saldo nol rupiah. Dalam arti, setiap akhir bulan, seluruh dana dihabiskan dan diperuntukkan untuk kemakmuran jamaah.

Begitulah Masjid Jogokariyan. Masjidnya sederhana saja. Tidak terlalu mewah. Tapi, bisa menjadi contoh. Seperti umumnya. Orang membangun masjid mewah, mudah dan sudah banyak dilakukan, memakmurkan (pengurus) masjid juga sudah terlalu sering terjadi, tapi, sebuah masjid yang kemudian bisa memakmurkan jamaah, tidak banyak. Dan, masjid Jogokariyan adalah satu yang terbaik. Masjid yang berhasil memakmurkan jamaahnya. [ ]

(Yons Achmad, Penulis, tinggal di Depok)

No comment for Semalam di Masjid Jogokariyan

Leave a Reply

Your email address will not be published.