HOME
Home » Opini » K-(ISLAMIC) POP: Gelombang Milenial Muslim Korea

K-(ISLAMIC) POP: Gelombang Milenial Muslim Korea

Posted at April 8th, 2022 | Categorised in Opini

SEMALAM saya mendapat amanah sebagai khatib taraweh di Masjid Al Qalam, Citra Gran Cibubur, masjid yang nyaman, modern dan indah. Usai ibadah dalam perjalanan pulang ke rumah, masuk notifikasi dari salah satu akun YouTube yang saya ikuti. “My First Medina”, begitu judul vlog terbaru unggahan akun Daud Kim, 30 tahun, seorang influencer, YouTuber dan selebgram muslim Korea terkemuka selain Ayana Moon; Song Bora a.k.a. Ola; Yongsworld ( Yong Lee-seong); Ujung Oppa ( Joong Hwang-woo); dan Kang Nayeon a.k.a. Safiya Kang, untuk menyebut beberapa nama. Tiba-tiba berpendar seutas tanya di benak saya, “Apakah sedang terjadi arus balik K-Pop ke arah berbeda?”

K(orea)-Pop adalah bagian dari tsunami kebudayaan hallyu (gelombang Korea) yang sedang menenggelamkan—sekaligus memukau–dunia. Lidah-lidah ombak hallyu lainnya adalah K-Drama (di Indonesia populer disebut ‘drakor’ singkatan dari ‘drama Korea’), K-Fashion, K-Movie, dan sebagainya

Atas pertanyaan saya apakah terjadi pembalikan arus K-Pop, jawaban singkatnya adalah “tidak”. Atau lebih tepatnya “belum”. Gelombang K-Pop masih terlalu deras untuk dihalangi apalagi ditandingi. Namun sebagai “riak-riak alternatif”, apa yang dilakukan para influencer milenial muslim Korea itu bolehlah dijuluki sebagai “ K-(Islamic) Pop” sambil menunggu ditemukannya istilah lebih tepat dan sesuai perkembangan berikutnya.

Bagi saya kemunculan Daud Kim dkk ibarat datangnya fajar sebuah era. Bagaimana tidak? Bayangkan saja jika sampai Sensus 2005, Pemerintah Korea Selatan masih belum menyediakan kolom “Muslim” sebagai satu kategori jawaban untuk identitas agama dalam sensus.

Selain itu, saya memiliki ikatan personal tersendiri ketika di akhir Januari lalu merilis novel berjudul Sabai 선우 (baca: Sabai Sunwoo) yang beraroma Korea.

Pada novel terbitan MCL Publisher ini saya tampilkan selintas peran Choi Yong-kil, muslim Korea yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Hangul ketika dia belajar Islam di Madinah Gelar PhD diperolehnya dari Omdurman Islamic University (OIU), Sudan. Sekarang dia dikenal sebagai Profesor Hamid Choi Yong-kil, Guru Besar Kajian Arab dan Islam di Universitas Myongji, Seoul. Karya fenomenalnya yang lain adalah terjemahan kitab Shahih Imam Bukhari yang kini bisa dibaca masyarakat Korea dalam bahasa mereka. Sebuah kerja literasi mengagumkan yang bahkan sulit dilakukan oleh mereka yang lahir dan besar sebagai muslim keturunan seperti saya.

Apakah Daud Kim akan mengikuti jejak Profesor Hamid Choi? Waktu yang akan membuktikan. Sebab kendati fasih berbahasa Inggris, Daud belum lancar bahasa Arab. Bisa dimaklumi karena dia revert sebagai mualaf sejak September 2019.

Toh meski belum terlalu lama sebagai mualaf, mantan penyanyi cover version yang lahir di keluarga Katolik dengan nama David Kim ini punya 3,18 juta follower di YouTube. Itu jumlah terbanyak di antara semua influencer milenial muslim Korea.

Ungkapan ‘semakin tinggi pohon semakin keras tiupan angin’ pun dialami Daud yang kerap digulung isu puting beliung. Dari melakukan KDRT terhadap (mantan) istri, masih mengonsumsi alkohol dan clubbing, melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan baru dikenal, atau menjadi mualaf hanya untuk kaya dan terkenal. Singkatnya: “ fake muslim”. Itu tuduhan yang dilecut dan disebar akun-akun pembenci Daud.

Namun dua vlog Daud terakhir menunjukkan sebaliknya. Melalui video “My First Medina” dan “Finally, I Came to Saudi Arabia”, dia bilang ingin merasakan pengalaman Ramadan di Tanah Suci sekaligus melakukan umrah pertama.

Saat mendarat di Riyadh, Daud tak menyangka dirinya dikenali sejumlah pemuda yang merubung dan memanggilnya ‘ famous YouTuber”. Daud melanjutkan perjalanan darat menuju bersama sejumlah jamaah dan berhasil ikut taraweh pertama di Masjid Nabawi. Konten vlog baru sampai di sini.

Sambil menunggu kelanjutan pengalaman spiritual Daud Kim, kita alihkan perhatikan kepada Ayana Jihye Moon yang sudah meluncurkan biografi Ayana, Journey to Islam yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2020).

Ayana menjadi muslimah saat menjadi murid SMA berusia 16—sepuluh tahun lalu–setelah mengikuti sebuah perkemahan pemuda muslim di Korea Selatan. Keputusan ini membuat berang kedua orang tuanya, sebuah keluarga terpandang di komunitas bisnis dan politik Korea Selatan. Sang ayah bahkan tak mau bicara dengan putri pertamanya itu selama dua tahun berikutnya meski mereka tinggal serumah. Ayana dianggap tak ada.

Lulus SMA, kecerdasan Ayana membuatnya berhasil menyabet beasiswa dari Islamic International University Malaysia (IIUM). Dia tinggalkan Korea dan orang tua, bulatkan tekad untuk hidup seadanya di negeri orang tanpa keluarga. “Dari keluarga berada, hidup saya berubah drastis di Malaysia. Tinggal sendirian di tempat kos seadanya, hanya bisa makan junk food,” katanya. Ayana pantang minta bantuan orang tua. Sejak menjadi mahasiswi IIUM dia putuskan berhijab.

Satu saat di antara jadwal luang kuliah, dia datang ke Indonesia. “Hanya karena jaraknya dekat dengan Malaysia. Saya tidak tahu apa-apa tentang Indonesia kecuali sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia,” katanya. And the rest is history!.

Ayana jatuh cinta dengan Indonesia dan vice versa. Generasi milenial muslim tanah air pun terpesona wajah boneka Ayana dan pengalaman hidupnya. Salah satu indikatornya terlihat dari langkah cepat perusahaan kosmetik Wardah yang mengontraknya sebagai brand ambassador. Kondisi finansialnya menyehat. Dia mulai rutin bolak-balik Malaysia-Indonesia-Korea Selatan. Kemampuan bahasa Indonesianya pun meningkat.

Melihat kemandirian Ayana, adik lelakinya Aydin Moon—mereka hanya dua bersaudara—memutuskan menjadi mualaf pula, dua Ramadhan silam. Apa pemantiknya? “Menurut Aydin, sikap saya sebelum jadi muslimah selalu sombong, arogan kepada orang lain. Tidak pernah senyum, tidak peduli lingkungan. Mungkin karena saya dari keluarga kaya berada dan saya pintar. Setelah menjadi muslimah sikap saya berubah total. Aydin bilang seperti melihat syaithonnirojim (setan laknat) berubah jadi malaikat,” ungkap Ayana tertawa lebar dalam peluncuran bukunya yang dipandu Dewi Sandra, artis yang juga mualaf.

Sementara sang ayah (masih) belum pernah muncul dalam vlog Ayana, ibunya sudah muncul berulang kali. Komunikasi keduanya cair dan hangat, tak jarang saling menggoda dengan kocak. Itu terlihat pada sebuah vlog akhir 2020, ketika untuk pertama kalinya Ayana mengajak ibunda masuk ke masjid Seoul Central Mosque tempat dia dan Aydin biasa shalat dan belajar agama. Ayana meminjamkan hijab cadangan kepada sang ibu yang memakainya namun langsung menyalakan kipas angin kecil seukuran telapak tangan di depan wajahnya. “Panas sekali ya pakai hijab ternyata,” ledek ibunda membuat Ayana tertawa.

Usai berkeliling masjid, Ayana menanyakan kesan ibunya yang menjawab serius. “Waktu Ayana masuk Islam, ibu kaget tapi tidak khawatir karena melihat persiapan kamu yang serius belajar Islam. Tapi waktu Aydin bilang dia juga mau masuk Islam, ibu cemas karena persiapan Aydin tidak seperti kamu.”

Ayana mencairkan pembicaraan dengan jenaka. “Sekarang Ayana dan Aydin sudah masuk Islam, bagaimana kalau ibu masuk Islam juga?” Sang ibu tersenyum kikuk. “Kalau untuk saat ini belum bisa.”

Ayana bukan satu-satunya influencer milenial muslim Korea yang fasih berbahasa Indonesia. Ada lagi yang bernama Joong Hwang-woo dengan panggilan akrab Ujung Oppa.

Kepandaiannya berbahasa Indonesia didapat karena tinggal di lingkungan masyarakat muslim tanah air. “Saya suka mendengar suara azan dan shalawat,” katanya. Dari kesukaan itu dia mendalami Islam dan memutuskan bersyahadat pada Maret 2019, tiga tahun silam. Kini Ujung Oppa aktif membuat konten sebagai seorang muslim di kanal YouTube dan Instagram.

Kisah Song Bora lain lagi. Awalnya dia seorang ateis yang tertarik pada peradaban Timur Tengah sehingga saat kuliah mengambil jurusan Sastra Arab. Tak dinyana itu awal ketertarikannya pada Islam dan mempunyai nama panggilan dalam bahasa Arab “Ola”. Tahun 2007 dia meyakini Islam sebagai pilihannya dan memperdalam studi bahasa Arab sehingga mempunyai kompetensi mengajar bahasa Arab di Korea Muslim Federation.

Fasih berbahasa Korea, Inggris, Arab, dan sedikit Indonesia—hasil persahabatannya dengan penulis Asma Nadia—Ola muncul sebagai cameo dalam film Jilbab Traveller: Love Sparks in Korea (2016) dari novel laris karya Asma Nadia, dengan pemeran utama Bunga Citra Lestari dan Morgan Oey. Di dalam biodata singkat di Instagram Ola menulis “ I’m not interested in kpop and kdrama.” Nah!

Selain Ola, Youtuber milenial muslim Korea Selatan yang cukup lancar berbahasa Arab adalah Yong Lee-seong pemilik akun YouTube Yongsworld. Usianya baru 23 tahun dan menjadi mualaf sejak Januari 2020. Dia kurang dikenal di Indonesia seperti Daud Kim atau Ujung Oppa karena sejak awal membuat vlog lebih tertarik mengulik peradaban dan kebudayaan Arab. Konten-konten vlognya selalu menyediakan subtitle dalam bahasa Arab. Akibatnya, pamornya berkibar kencang di kalangan milenial Timur Tengah. Dia bahkan sudah melaksanakan umrah tak lama setelah memeluk Islam. Pengalaman itu dibagikannya juga sebagai konten media sosialnya.

Influencer milenial muslim Korea lainnya yang cukup aktif adalah Kang Nayeon yang menambah panjang barisan K-Hijabers seperti Ayana Moon dan Song Bora.

Kisah perkenalan Nayeon dengan Islam sangat berbeda dengan milenial lain. Awalnya dia bekerja sebagai manajer kantin Korea Muslim Federation (KMF) hanya sebagai profesional pengusaha makanan sejak 2008. “Saya lihat orang-orang Islam itu penuh damai dan bersahabat,” katanya. Lama-lama dia tertarik mempelajari Islam di antara kesibukan bisnis kuliner.

Setelah tujuh tahun berinteraksi dengan KMF dan para jamaah yang mendatangi Masjid Pusat Seoul (Seoul Central Mosque), Nayeon bersyahadat dan mendapatkan nama muslimah Safiya Kang.

Dia tetap fokus pada bisnis makanan halal dengan mengembangkan resto halal Manis Kitchen yang sangat membantu program wisata halal di Korea Selatan. Posisinya dalam dunia kuliner Negeri Ginseng terus beranjak menjadi figur perempuan pengusaha muslim berpengaruh, bahkan mulai melebarkan sayap bisnisnya ke Thailand.

Dari sekilas catatan ini terlihat jelas ada gelombang kebangkitan milenial muslim Korea Selatan yang tak ditemukan pada 15-20 tahun sebelumnya. Sebuah “ K-(Islamic) Pop” yang sedang menggeliat dan terus memperkuat identitas.

Bukan tidak mungkin dalam 15-20 tahun ke depan akan bermunculan pula para da’i dan hafiz-hafizah (penghapal Al Qur’an) muda asli Korea yang berpengaruh dan akan mengubah konstelasi pusat-pusat keislaman di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Salah satu indikatornya adalah tren peningkatan jumlah mualaf sebanyak 3.000 orang setahun di seluruh Korea Selatan. Jumlah yang tak bisa dianggap kecil mengingat total umat Islam baru sekitar 1 persen dari populasi Negeri Ginseng. Data KMF tahun lalu menunjukkan ada sekitar 200.000 muslim di Korea atau meningkat dua kali lipat dibandingkan dekade sebelumnya.

Kampus-kampus bergengsi seperti Korea Advanced Institute of Science and Technology dan Hanyang University pun sudah memiliki kantin halal dan musala khusus bagi mahasiswa muslim. Bahkan Kookmin University punya dewan mahasiswa khusus muslim untuk menampung aspirasi.

Fenomena ini akan membuat mahasiswa asli Korea semakin mudah mempelajari Islam dari sesama teman kampus mereka. Tidak seperti era Ayana Moon yang harus ke Malaysia dulu satu dekade lalu.

Akmal Nasery Basral
Sosiolog, Penulis

No comment for K-(ISLAMIC) POP: Gelombang Milenial Muslim Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published.