HOME
Home » Opini » Presiden Sebagai Pendidik

Presiden Sebagai Pendidik

Posted at Mei 6th, 2023 | Categorised in Opini

Mengapa Rasulullah Saw dikatakan sebagai pemimpin terhebat di dunia? Karena Rasulullah selain memimpin juga mendidik. Rasulullah memimpin perubahan bangsa Arab dari kebodohan kepada keilmuan. Rasul mendidik bangsa Arab selama 23 tahun sehingga menjadi bangsa terbaik di dunia saat itu.

Kerusakan sebuah negara adalah apabila pemimpinnya tidak bisa mendidik rakyatnya. Pemimpinnya otoriter sebagaimana kita saksikan banyak bangsa Arab saat ini, atau pemimpinnya bodoh atau suka bohong sebagaimana yang terjadi pada negeri ‘wakanda’.

Pemimpin yang pendidik akan membuat kebijakan kebijakan yang memuaskan rakyatnya. Dia bisa menjelaskan kebijakan yang diambil dengan berbagai pertimbangan pertimbangan rasional. Ia bisa memilih alternatif kebijakan yang terbaik diantara berbagai pilihan kebijakan yang ada.

Pemimpin yang pendidik ia akan mencerdaskan rakyatnya. Ia tidak takut berhadapan atau didemo rakyatnya ketika mengambil sebuah kebijakan. Karena kebijakannya dilaksanakan dengan pertimbangan yang matang. Pemimpin pendidik kalimat kalimatnya akan dikenang dan dijadikan pedoman bagi rakyatnya

Tjokroaminoto adalah pemimpin pendidik yang menggetarkan pemerintah kolonialis Belanda saat itu. Pidato pidato dan tulisannya menjadikan ia dijuluki pejabat Belanda ‘Raja Tanpa Mahkota’. Tjokro memimpin, menggerakkan dan mendidik rakyat agar bisa mandiri dan percaya diri dengan nilai nilai Islam yang mulia. Bukan mengambil nilai dari Belanda yang penuh kesombongan dan diskriminatif.

Tjokro (dan Agus Salim) mengadakan pelatihan pelatihan Keislaman di berbagai kota di Jawa, yang dihadiri tokoh tokoh muda Islam saat itu, seperti : Mohammad Roem, Agus Salim, Mohammad Natsir dan lain-lain. Tjokro yang mendidik para remaja di rumahnya Surabaya, seperti Soekarno, Semaun, Musso dan Kartosuwiryo. Sayangnya selepas dari pendidikan Tjokro mereka kebanyakan berguru pada tokoh tokoh marxis atau sosialis, kecuali Kartosuwiryo.

Nasihat Tjokro diantaranya,” Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar maka menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

“Setinggi tinggi ilmu, sepintar pintar siasat dan sempurna murni tauhid.”

Natsir adalah pemimpin yang juga pendidik. Ia merintis pendidikan Islam di Bandung, terlibat dalam pemerintahan Soekarno dan mempelopori manajemen dakwah Islam yang mengesankan di tanah air. Natsir memberi contoh pada pidato, tulisan sekaligus tingkah laku. Para sarjana Barat mengakui akhlak mulia dalam dakwah dan politik Natsir.

Natsir misalnya menasihatkan,

“Kita mengkader untuk mencetak jenderal-jenderal lapangan, bukan prajurit- prajurit”

“Kerjakan yang di senangi Allah, maka Allah akan wujudkan yang Anda senangi, binalah umat niscaya umat akan membinamu, tak usah dipikirkan yang tidak mungkin , kerjakan mana yang bisa, mulai dengan apa yang ada, karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai”

“Janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak hanya berbunyi ketika terhempas di pantai. Tetapi jadilah kamu sebagai air bah, mengubah dunia dengan amalmu. Kipaskan sayapmu di seluruh ufuk, sinarilah zaman dengan nur imanmu, kirimkan cahaya dengan nur imanmu. Kirimkan cahayanya dengan yakinmu. Patrikan segala dengan nama Muhammad saw”

Para ahli manajemen membedakan antara pemimpin dan manajer. Pemimpin lebih tinggi daripada manajer. Pemimpin selain bisa mengorganisir, ia memberikan arah atau visi dan ia tahu cara mewujudkan visi itu. Manajer hanya pandai mengorganisir, ia tidak bisa memberikan visi akan sebenarnya organisasi (negara) itu

Ali bin Abi Thalib yang dididik Rasulullah sejak kecil adalah seorang pemimpin pendidik. Meskipun banyak pemberontakan di masanya, tapi kata kata atau kebijaksanaannya menjadi legenda sampai sekarang. Kalimat kalimat yang diucapkannya dibukukan para ulama dan menjadi pedoman kehidupan. Salah satu suratnya yang monumental adalah suratnya kepada gubernur Mesir Malik Asytar saat itu. Ali ra menyatakan,”Ketahuilah wahai Malik bahwa aku telah mengangkatmu menjadi seorang Gubernur dari sebuah negeri yang dalam sejarahnya berpengalaman dengan pemerintahan-pemerintahan yang benar maupun tidak benar.

Sesungguhnya orang-orang akan melihat segala urusanmu, sebagaimana engkau dahulu melihat urusan para pemimpin sebelummu. Rakyat akan mengawasimu dengan matanya yang tajam, sebagaimana kamu menyoroti pemerintahan sebelumnya juga dengan pandangan yang tajam. Mereka akan bicara tentangmu, sebagaimana kamu bicara tentang mereka.

Sesungguhnya rakyat akan berkata yang baik-baik tentang mereka yang berbuat baik pada mereka. Mereka akan (dapat) ‘menggelapkan’ semua bukti dari tindakan baikmu. Karenanya, harta karun terbesar akan kamu peroleh jika kamu dapat menghimpun harta karun dari perbuatan-perbuatan baikmu. Jagalah keinginan agar selalu di bawah kendali dan jauhkan dirimu dari hal-hal yang terlarang. Mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah, bahkan sering melakukan kesalahan. Bagaimanapun berikanlah ampun dan maafmu sebagaimana engkau menginginkan ampunan dan maaf dari-Nya. Sesungguhnya engkau berada di atas mereka dan urusan mereka ada di pundakmu.

Sedangkan Allah berada di atas orang yang mengangkatmu. Allah telah menyerahkan urusan mereka kepadamu dan menguji dirimu dengan urusan mereka. Jangan katakan: “Aku ini telah diangkat menjadi pemimpin, maka aku bisa memerintahkan dan harus ditaati”, karena hal itu akan merusak hatimu sendiri, melemahkan keyakinanmu pada agama dan menciptakan kekacauan dalam negerimu.

Bila kamu merasa bahagia dengan kekuasaan atau malah merasakan semacam gejala rasa bangga dan ketakaburan, maka pandanglah kekuasaan dan keagungan pemerintahan Allah atas semesta, yang kamu sama sekali tak mampu kuasai. Hal itu akan meredakan ambisimu, mengekang kesewenang-wenangan dan mengembalikan pemikiranmu yang terlalu jauh…

Janganlah bermusyawarah dengan si bakhil, karena dia akan memalingkanmu dari kebajikan dan menakut-nakutimu dengan kemiskinan. Jangan juga bermusyawarah dengan si pengecut yang hanya akan mengendorkan tekadmu atau si tamak yang akan menyemangatimu melakukan suatu keburukan dengan cara yang zalim. Sebenarnya kebakhilan, kepengecutan dan ketamakan adalah gharizah (insting) yang berbeda-beda yang disatukan oleh sifat buruk sangka terhadap Allah.”

Bila kita mengaca pada tanah air, dari ketiga calon presiden yang muncul di masyarakat, maka hanya Anies Baswedan lah yang pemimpin pendidik. Ganjar dan Prabowo hanya pemimpin bukan pendidik. Keduanya ‘hanya bisa’ mengorganisir tapi tak mampu memberikan arah ke depan sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang hebat, adil dan makmur.

Ganjar yang didukung Jokowi lebih parah lagi. Ia gagal menjadi pemimpin pendidik. Kebanggaannya terhadap film porno dan tidak merasa berdosa ketika melihatnya, menunjukkan nafsunya lebih besar dari akalnya. Pemimpin seperti ini akan cenderung mengikuti majikannya dan tidak bisa melakukan terobosan terobosan besar yang mencerahkan bangsanya.

Mei akan diluncurkan buku Jejak Rekam Anies Baswedan di Jakarta. Kita akan melihat bagaimana kebijakan kebijakan yang diambil Anies di Jakarta sehingga ia layak untuk didukung menjadi presiden di Indonesia.

Di media-media sosial saat ini telah banyak beredar pidato pidato Anies yang mencerahkan. Baik tentang pendidikan, ekonomi, sejarah dan lain lain. Indonesia saat ini butuh pemimpin pendidik. Bukan sekedar pemimpin yang bisa mengorganisir massa semata . Wallahu azizun hakim.

Nuim Hidayat, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kota Depok 2011-2021.

No comment for Presiden Sebagai Pendidik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *